LAPORAN
PERKEMBANGAN SENI RUPA DI INDONESIA
NAMA KELOMPOK :
1. M . IMAM
EFFENDI
2. M . ALFAN
NUR HABIBI
3. M . RIZKY
RAMADHANI
4. JA’A
BILADUNIL
5. DIGDYO
ALFIANDI
6. ABI
MAGFIANTO
Kata Pengantar
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Sejara Seni Rupa Indonesia ”.
Makalah ini berisikan tentang informasi
Pengertian seni rupa, ciri-ciri, unsur, serta fungsi dan tujuan seni. serta
membahas seni rupa.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat
membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir
kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT
senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin ya robbal `alamin
Sidoarjo,
6Maret 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
Seni Rupa
Tradisional Indonesia
Seni
rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa
ditangkap oleh mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan
mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volulme, warna, tekstur dan pencahayaan
dengan acuan estetika. Seni rupa dapat dibedakan menjadi 3 macam yakni Seni
rupa murni, seni rupa kriya dan seni rupa design.
Seni rupa murni meliputi seni lukis, grafis, patung,
instalasi, pertunjukan, keramik, film, koreografi dan fotografi. Seni rupa
design kriya meliputi seni arsitektur, design grafis, design interior, design
busana dan design produk. Sedangkan seni rupa kriya meliputi tekstil, kayu,
keramik dan rotan.
Dengan adanya kebudayaan agraris mengarah pada bentuk
kesenian yang berpegang pada suatu kaidah yang turun temurun
Dengan adanya kebudayaan maritim. Kesenian Indonesia
sering dipengaruhi kebudayaan luar yang kemudian di padukan dan dikembangkan
sehingga menjadi milik bangsa Indonesia sendiri
Indonesia terdiri dari beberapa daerah dengan keadaan
lingkungan dan alam yang berbeda, sehingga melahirkan bentuk ungkapan seni yang
beraneka ragam
Dengan kekayaan alam Indonesia yang menghasilkan
bermacam – macam bahan untuk membuat kerajinan
Dengan latar belakang agama asli yang primitif
berpengaruh pada ungkapan seni yang selalu bersifat perlambangan / simbolisme
Jaman prasejarah (Prehistory) adalah jaman sebelum
ditemukan sumber – sumber atau dokumen
dokumen tertulis mengenai kehidupan manusia. Latar belakang
kebudayaannya berasal dari kebudayaan Indonesia yang disebarkan oleh bangsa
Melayu Tua dan Melayu Muda. Agama asli pada waktu itu animisme dan dinamisme
yang melahirkan bentuk kesenian sebagai media upacara (bersifat simbolisme).
Jaman prasejarah Indonesia terbagi atas:
Jaman batu terbagi lagi menjadi: jaman batu tua (Paleolitikum), jaman
batu menengah (Mesolithikum), Jaman batu muda (Neolithikum), kemudian
berkembang kesenian dari batu di jaman logam disebut jaman megalithikum (Batu
Besararkofaq), meja batu dll.
Karya peninggalanya :
-
Kapak gengam ( chopper )
-
Batu berwarna ( Chalcedon )
-
Lukisan tangan dan babi
Karya peninggalannya :
-
Mata panah
- Batu
penggiling
-
Kapak batu
Seni Rupa Zaman Neolitikum (Batu Muda/Dasar Kebudayaan
Bangsa Indonesia)
Karya peninggalannya :
-
Kapak persegi
-
Kapak lonjong
-
Gelang
-
Kalung
-
Cincin dari batu berwarna
-
Tembikar ( pengaruh masuknya bangsa cina ke Indonesia)
Seni Rupa Zaman Megalitikum( Batu Besar )
Karya peninggalannya :
- Menhir-
-
Dolmen Kubur batu
- Keranda batu
(sarcopagus)
-Punden
berundak
-
Arca batu
Seni Rupa Jaman Logam
Zaman logam di Indonesia dimulai sejak tahun 500 SM, yaitu sejak
kebudayaan indo-cina masuk ke Indonesia. Kebudayaan logam di Indonesia hanya
mengalami zaman perunggu.disebut zaman perunggu karena banyak ditemukan benda –
benda kerajinan dari bahan perunggu seperti ganderang, kapak, bejana, patung
dan perhiasan, karya seni tersebut dibuat dengan teknik mengecor (mencetak)
yang dikenal dengan 2 teknik mencetak:
-
Bivalve ialah teknik mengecor yang bisaa di ualng berulang
-
Acire Perdue ialah teknim mengecor yang hany satu kali pakai (tidak bisa diulang)
Seni Rupa Hindu Budha
Masuknya
agama Hindu-Budha di Indonesia membawa pengaruh yang kuat bagi susunan
masyarakatnya. Agama tersebut lahir ratusan tahun yang sebelum masehi. Ajaran
Hindu-Buddha mengajarkan etika hidup layaknua menjadi seorang yang suci yang
lepas dari hawa nafsu keduniawian. Agama ini hanya berkembang di negara-negara
Asia. Di negara-negara Eropa maupun Amerika agama ini kurang pengaruh bagi
masyarakat. Di Indonesia agama inilah yang menjadi pelopor terbentuknya
kerajaan tua. Kerajaan tua yang dipengaruhi oleh ajaran Hindu-Buddha adalah
Kutai, Tarumanegara,Kalingga, Sriwijaya, Mataram Jawa Tengah, Kahuripan,
Kediri, Singosari, Majapahit, Sunda dan Bali.
Pengaruh
Kebudayaan Hindu-Buddha Terhadap Masyarakat di Indonesia
Kebudayaan Hindu-Buddha yang dibawa oleh orang-orang
India lambat laun diadopso oleh masyarakat Indonesia. Sudah barang tentu
kemudian mempengaruhi tatanan kehidupan masyarakat Indonesia secara umum.
Sebelum datangnya orang India Indonesia sebenarnya juga memiliki kebudayaan
asli yang berkembang dan tumbuh di kalangan masyarakat. Datangnya orang-orang
India ke Indonesia menyebabkan bertemunya dua kebudayaan yang berlatar belakang
berbeda. Pertemuan inilah yang disebut dengan akulturasi budaya, yaitu
bertemunya dua kenudayaan yang kemudian menjadi budaya baru yang dipengaruhi
oleh kedua budaya yang bertemu. Bertemunya dua kebudayaan ini menghasilkan
unsur-unsur kebudayaan baru yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Tetapi pada
kenyataannya unsur kebudayaan India lebih mendominasi dari proses akulturasi
budaya akibatnya masyarakat Indonesia mulai terpengaruh dengan kebudayaan India
dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Adapun hasil akulturasi tersebut dapat
dilihat dalam beberapa hal.
Bangunan Candi
Bangunan candi sering ditemukan di daerah Jawa.
Bangunan ini digunakan sebagai tempat untuk melaksanakan peribadahan. Candi
adalah istilah yang digunakan untuk menyebut semua banginan peninggalan di
Indonesia, terutama di Jawa tengah dan Jawa Timur, yang dipengaruhi oleh
arsitektur Hindu-Buddha. Dalam agama Hindu, candi adalah dijadikan sebagai
semacam pemujaan dewa belaka. Oleh karena itu, dalam candi Buddha di dalamnya
tidak terdapat peti pripih dan arcanya tidak mewujudkan seorang raja.
Seni Rupa
Seni rupa adalah suatu hasil cipta karya manusia yang
bertujuan untuk menghibur masyarakat. Di Indoneisa ada banyak seni yang
berkembang, diantaranya adalah seni rupa, seni tari, dan seni teater. Tetapi
seni yang dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu-Buddha adalah seni rupa
Hindu-Buddha ditampilkan baik secara antropomorfik(pengenaan ciri-ciri manusia
pada binatang, tumbuhan, atau benda mati) maupun non-antropomorfik. Motif yang
paling umum digunakan adalah “teratai” atau padma, yang banyak dijumpai pada
seni patung Hindu-Buddha.
Seni Patung
Pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha juga terlihat dari
seni patung yang terdapat di Indonesia. Peninggalan patung di Indonesia
mencerminkan ajaran dari Hindu-Buddha. Peninggalan patung banyak dijumpai di
Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada masa ini, pembuatan patung dikaitkan dengan
candi. Jadi, patung-patung tersebut digunakan untuk melakukan pemujaan dan
mengabdi pada agama Hindu-Buddha.
Seni Sastra
Seni sastra adalah seni yang menjadi mendia hiburan
bagi masyarakat Indonesia pada masa Hindu-Buddha. Banyak pengaruh ajaran
Hindu-Buddha yang mempengaruhi karya sastra Indonesia.
Dalam seni rupa contoh wujud akulturasinya dapat
dilihat dari relief dinding candi (gambar timbul), gambar timbul pada candi
tersebut banyak menggambarkan suatu kisah/ceritayang berhubungan dengan ajaran
agama Hindu ataupun Budha.
relief dari candi Borobudur yang menggambarkan Budha
sedang digoda oleh Mara yang menari-nari diiringi gendang, hal ini menunjukkan
bahwa relief tersebut mengambil kisah dalam riwayat hidup Sang Budha seperti
yang terdapat dalam kitab Lalitawistara.
Demikian pula di candi-candi Hindu, relief yang juga
mengambil kisah yang terdapat dalam kepercayaan Hindu seperti kisah Ramayana.
Yang digambarkan melalui relief candi Prambanan ataupun candi Panataran
Kesenian klasik merupakan puncak perkembangan kesenian tertentu, yang
mana tidak dapat berkembang lagi (mandeg). Karya seni yang dianggap klasik
memiliki kriteria sebagai berikut : (1) Kesenian yang telah mencapai puncak
(tidak dapat berkembang lagi), (2) merupakan standarisasi dari zaman sebelum
dan sesudahnya, dan (3) telah berusia lebih dari setengah abad. Selain dari
ketentuan itu, suatu kesenian belum bisa dikategorikan seni klasik. Karya-karya
seni klasik dapat dijumpai pada bangunan-bangunan kuno Nusantara pada zaman
Hindu-Budha dan bangunan-bangunan kuno di Yunani dan Romawi
Rembesan Seni Rupa Masa Hindu-Budha
Seni rupa pada masa Hindu-Budha berkembang pesat. Seni
rupa pada zaman ini mendapat pengaruh kuat dari India. Setidaknya ada beberapa
ciri dari seni rupa pada masa ini. Pertama adalah bersifat feodal, yaitu
kesenian ini hanya berpusat di istana sebagai media pengabdian raja atau
pengkultusan raja. Kedua, bersifat sakral yang artinya kesenian sebagai alat
untuk upacara agama. Ketiga, bersifat konvensional, yaitu kesenian tersebut
bertolak pada suatu pedoman pada sumber hukum dan agama.
Seni rupa dari masa ini terdapat dalam
bangunan-bangunan seperti candi, patung-patung dewa atau raja, dan
hiasan-hiasan, relief atau ornamen. Ciri bangunannya adalah atapnya yang
meninggi seperti kerucut. Terlihat dari bangunan candi yang semakin ke atas
bentuk bangunannya semakin mengerucut. Pola ini mencirikan bahwa semakin ke
atas, tingkatan tertentu ditempati oleh sebagian kecil orang-orang suci. Konsep
ini sesuai dengan kepercayaan agama Hindu-Budha yang mengenal konsep Moksa, dan
Nirwana.
Menurut Onghokham, ada beberapa faktor yang
mempengaruhi perkembangan kesenian. Pertama, ungkapan kesenian tradisional
mempunyai hubungan yang erat dengan alam pikiran penduduk setempat mengenai
soal-soal spiritual seperti magis, agama, mistik dan sebagainya. Kedua, seni
sangat dipengaruhi oleh organisasi sosial atau politik dari masyarakat tersebut
dalam berbagai versinya. Terakhir, pengaruh luar yang mempengaruhinya. Seni
rupa dari masa Hindu-Budha pun tentunya mempengaruhi perkembangan seni rupa di
Indonesia.
Pengaruh seni rupa masa Hindu-Budha terlihat pada masa sesudahnya, yatu
masa Islam. Pada masa Islam, bangunan-bangunan ibadah merupakan bangunan yang
banyak mengambil filosofi bangunan masa sebelumnya. Seperti mesjid Demak yang
memiliki kubah yang arsitekturnya berundak. Konsep berundak ini terdapat
seperti pada candi-candi. Juga makam-makam Islam. Dibuatnya nisan dan makam
yang di atasnya didirikan bangunan (astana) merupakan konsep perupaan yang
terpengaruh dari masa Hindu-Budha.
Seni Rupa Islam
Seni Rupa Indonesia Islam
Agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke 7 M
oleh para pedagang dari India, Persia dan Cina. Mereka menyebarkan ajaran Islam
sekligus memperkenalkan kebudayaannya masing – masing, maka timbul akulturasi
kebudayaan.
Seni rupa Islam juga dikembangkan oleh para empu di
istana – istana sebagai media pengabdian kepada para penguasa (Raja/Sultan)
kemudian dalam kaitannya dengan penyebaran agama Islam, para walipun berperan
dalam mengembangkan seni di masyarakat pedesaan, misalnya da’wah Islam
disampaikan dengan media seni wayang.
Ciri – Ciri Seni Rupa Indonesia Islam
Karya Seni Rupa Indonesia Islam
Mesjid
Pengaruh hindu tampak pada bagian atas mesjid yang
berbentuk limas bersusun ganjil (seperti atap Balai Pertemuan Hindu Bali),
contohnya atap mesjid Agung Demak dan Mesjid Agung Banten.
Istana
Istana / keraton berfungsi sebagai tempat tinggal Raja, pusat
pemerintahan. Pusat kegiatan agama dan budaya. Komplek istana bisaanya
didirikan di pusat kota yang dikelilingi oleh dinding keliling dan parit
pertahanan.
Makam
Arsitektur makam orang muslimin di Indonesia merupakan hasil pengaruh
dari tradisi non muslim. Pengaruh seni prasejarah tampak pada bentuk makam
seperti punden berundak. Sedangkan pengaruh hindu tampak pada nisannya yang
diberi hiasan motif gunungan atau motif kala makara. Adapun pengaruh dari
Gujarat India yaitu pada makam yang beratap sungkup
Agama Islam masuk ke Indonesia abad VII Masehi yang dibawa oleh para
saudagar Arab yang datang pertama kali di Indonesia lewat pesisir utara
Sumatera. Dari sinilah terbentuk cikal bakal komunitas muslim yang ditengarai
dengan pendirian Kerajaan Islam pertama di Aceh. Selanjutnya hampir semua corak
seni budaya masyarakat Arab mempengaruhi budaya Indonesia, yang mencakup semua
aspek bentuk kesenian, seni suara, musik, sastra, lukis, arca, tari, drama,
arsitektur dan lain-lain. Seni kaligrafi menduduki posisi yang amat penting.
Seni kaligrafi merupakan bentuk seni / budaya Islam yang pertama ditemukan di
Indonesia dan menjadi aset budaya Islam terdepan hingga kini. Kaligrafi Islam
dibedakan menjadi dua yaitu tulisan dan lukisan.
Lukisan kaligrafi terbagi menjadi dua yaitu murni dan bebas, yang
pertama i menggunakan bentuk huruf baku biasanya dibuat oleh lulusan pondok
pesantren, sedangkan yang kedua tidak menggunakan huruf baku yang dikerjakan
oleh seniman akademik. Aneka bentuk lukisan kaligrafi mengandung dua elemen,
fisioplastis dan ideoplastis. Elemen fisioplastis berupa penerapan estetis
menyangkut unsur-unsur rupa, bentuk, garis, warna, ruang, cahaya dan volume.
Elemen ideoplastis meliputi semua masalah langsung/tidak yang berhubungan erat
dengan isi atau cita perbahasaan bentuk.
Diangkatnya kaligrafi sebagai tema sentral dalam melukis, menjadi
sejarah penting terbentuknya lukisan kaligrafi Indonesia. Lukisan kaligrafi
sangat diperhitungkan dalam kancah seni rupa Indonesia ketika muncul
pendalaman-pendalaman spiritual, penghayatan, perenungan yang mengarah ke
kedalaman kemanusiaan dan keTuhanan. Sadali dan AD Pirous layak dicatat sebagai
pelopor lukisan kaligrafi Islam Indonesia tahun 1960-an. Selanjutnya seni lukis
kaligrafi berkembang pesat dengan tokoh seni Amri Yahya di Yogya, yang
menggunakan medium batik, di Surabaya Amang Rahman menciptakan surealisme
dengan mengambil kekuatan kaligrafi Islam.
Momentum penting pameran seni rupa (seni lukis
kaligrafi Islam) mulai marak di dalam maupun di luar negeri, antara lain pada
tahun 1975 pameran lukisan kaligrafi pertama pada MTQ Nasional XI di Semarang,
pameran pada Muktamar pertama media masa Islam sedunia tahun 1980 di senayan
Jakarta, pada MTQ Nasional XII di Banda Aceh tahun 1981, kemudian pada pameran
kaligrafi Islam Balai Budaya Jakarta tahun Hijriyah 1405 (1984), disusul pada
MTQ XVI di Yogyakarta tahun 1991. Sambutan masyarakat yang mayoritas Islam
terhadap pameran-pameran itu tak diragukan. Momentum penting lainnya ketika
diselenggarakan festifal Istiglal I (1991) dan II (1995) dengan tema utama seni
lukis kaligrafi Islam, yang melibatkan para perupa di antaranya AD. Pirous,
Amri Yahya, Hendra Buana, Salamun Kaulam, dan Syaiful Adnan. Mereka menampilkan
aneka bentuk, gaya dan ragamnya dari tulisan hingga lukisan, dari ekspresi
hingga transendensi illahi
Seni
kaligrafi atau seni khat adalah seni tulisan indah. Dalam kesenian Islam
menggunakan bahasa arab. Sebagai bentuk simbolis dari rangkaian ayat – ayat
suci Al – Qur’an. Berdasarkan fungsinya seni kaligrafi dibedakan menjadi,
yaitu:
1.
Kaligrafi terapan berfungsi sebagai dekorasi / hiasan
2.
Kaligrafi piktural berfungsi sebagai pembentuk gambar
3.
Kaligrafi ekspresi berfungsi sebagai media ungkapan perasaan seperti
kaligrafi karya AD. Pireus dan Ahmad Sadeli
Seni hias
islam selalu menghindari penggambaran makhluk hidup secara realis, maka untuk
penyamarannya dibuatkan stilasinya (digayakan) atau diformasi (disederhanakan)
dengan bentuk tumbuh – tumbuhan.
Seni Rupa Modern Indonnesia
Seni Rupa Indonesi Modern
Istilah “modern” dalam seni rupa Indonesia yaitu betuk
dan perwujudan seni yang terjadi akibat dari pengaruh kaidah seni Barat /
Eropa. Dalam perkembangannya sejalan dengan perjuangan bangsa Indonesia untuk
melepaskan diri dari penjajahan.
Dimulai dari prestasi Raden Saleh Syarif Bustaman
(1807 – 1880), seorang seniman Indonesia yang belajar kesenian di eropa dan
sekembalinya di Indonesia ia menyebarkan hasil pendidikannya. Kemudian Raden
Saleh dikukuhkan sebagai bapak perintis seni lukisan modern.
Ditandai dengan hadirnya sekelompok pelukis barat
yaitu Rudolf Bonnet, Walter Spies, Arie Smite, R. Locatelli dan lain – lain.
Ada beberapa pelukis Indonesia yang mengikuti kaidah / teknik ini antara lain:
Abdulah Sr, Pirngadi, Basuki Abdullah, Wakidi dan Wahid Somantri
PERSAGI (Peraturan Ahli Gambar Indonesia) didirikan tahun 1938 di
Jakarta yang diketuai oleh Agus Jaya Suminta dan sekretarisnya S. Sujoyono,
sedangkan anggotanya Ramli, Abdul Salam, Otto Jaya S, Tutur, Emira Sunarsa
(pelukis wanita pertama Indonesia). PERSAGI bertujuan agar para seniman
Indonesia dapat menciptakan karya seni yang kreatif dan berkepribadan Indonesia
Pada
jaman Jepang para seniman Indonesia disediakan wadah pada balai kebudayaan
Keimin Bunka Shidoso. Para seniman yang aktif ialah: Agus Jaya, Otto Jaya,
Zaini, Kusnadi dll. Kemudian pada tahun 1945 berdiri lembaga kesenian dibawah
naungan POETRA (Pusat tenaga Rakyat) oleh empat sekawan: Soekarno, Hatta, Ki
Hajar Dewantara dan KH. Mansur
Pada
masa ini seniman banyak teroragisir dalam kelompok – kelompok diantaranya:
Sanggar seni rupa masyarakat di Yogyakarta oleh Affandi, Seniman Indonesia Muda
(SIM) di Madiun, oleh S. Sujiono, Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI)
Djajengasmoro, Himpunan Budaya Surakarta (HBS) dll.
Pada
tahun 1950 di Yogyakarta berdiri ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) yang sekarang
namanya menjadi STSRI (Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia) yang dipelopori oleh
RJ. Katamsi, kemudian di Bandung berdiri Perguruan Tinggi Guru Gambar (sekarang
menjadi Jurusan Seni Rupa ITB) yang dipelopori oleh Prof. Syafe Sumarja.
Selanjutnya LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) disusul dengan jurusan –
jurusan di setiap IKIP Negeri bahkan sekarag pada tingat SLTA.
Pada
tahun 1974 muncul para seniman Muda baik yang berpendidikan formal maupun otodidak,
seperti Jim Supangkat, S. Priaka, Harsono, Dede Eri Supria, Munni Ardhi, Nyoman
Nuarta, dll.
Contoh Seniman :
- Raden Saleh Syarif
Bustaman
- Mooi Indi
- Persagi
- Affandi
- Ahmad Sadali
Ciri-ciri dan Unsur Modernisme (Desain dan Seni Rupa)
1. Ciri-ciri
seni modern (Desain dan Seni Rupa)
- Minimalis
- Rasionalitas/Rationality
- Dominant bentuk-bentuk
geometris
- Tidak ada unsur
ornament
- Univeesal
- Fungsionalitas
diprioritaskan
- Orisinalitas/kemurnian/purity
- Penguatan dalam konsep
- Kreativitas
- Memutus hubungan dengan
sejarah
2.
Unsur-unsur Modernisme
- Eksperimen
- Pembaruan (Inovation)
- Kebaruan (Novelty)
- Orisinalitas
Fungsi dan Tujuan Seni Modern
1. Memberi
warna baru terhadap kebutuhan manusia baik secara fisik maupun psikis
- Fisik :
Munculnya bentuk-bentuk desain arsitektur yang baru
dan desain-desain lainnya seperti
alat-alat transportasi, fashion dll
- Psikis:
Mengurangi kejenuhan penikmat karya seni, karena
muncul berbagai aliran baru seperti pada
seni lukis dan cabang seni lainnya.
2.
Meningkatkan popularitas para seniman, karena seni modern selalu menyertakan nama
senimannya
pada setiap karya yang diciptakan
3. Memberikan
kemudahan masyarakat, karena banyak penemuan-penemuan baru dari
hasil
eksperimen para seniman modern.
Seniman seni rupa modern Indonesia
1. Raden
Saleh (1807 – 1880).
Nama lengkap Raden Saleh yaitu Raden Saleh Syarif
Bustaman. Beliau merupakan salah satu
seniman modern Indonesia, seni rupa karyanya adalah berupa lukisan.
Beliau pernah belajar seni lukis di Belanda. Melihat lukisan Raden Saleh,
masyarakat Belanda terperangah. Raden Saleh merupakan seorang pelukis muda yangdapat menguasai teknik dan menangkap
watak seni lukis Barat. Oleh karena itu , melihat lukisan Raden Saleh,
masyarakat Belanda terperangah. Lukisan-lukisannya yang dibuat Raden Saleh menampilkan ekspresi, ini adalah bukti bahwa
Raden Salehadalah seorang romantisis.
Lukisan Raden Saleh yang berjudul “Badai” ini
merupakan ungkapan khas karya yang beraliran Romatisme. Dalam aliran ini
seniman sebenarnya ingin mengungkapkan gejolak jiwanya yang terombang-ambing
antara keinginan menghayati dan menyatakan dunia (imajinasi) ideal dan dunia
nyata yang rumit dan terpecah-pecah. Dari petualangan penghayatan itu, seniman
cenderung mengungkapkan hal-hal yang dramatis, emosional, misterius, dan
imajiner. Namun demikian para seniman romantisme sering kali berkarya
berdasarkan pada kenyataan aktual.
Dalam lukisan “Badai” ini, dapat dilihat bagaimana
Raden Saleh mengungkapkan perjuangan yang dramatis dua buah kapal dalam
hempasan badai dahsyat di tengah lautan. Suasana tampak lebih menekan oleh
kegelapan awan tebal dan terkaman ombak-ombak tinggi yang menghancurkan salah satu
kapal. Dari sudut atas secercah sinar matahari yang memantul ke gulungan ombak,
lebih memberikan tekanan suasana yang dramatis.
Walaupun Raden Saleh berada dalam bingkai
romantisisme, tetapi tema-tema lukisannya kaya variasi, dramatis dan mempunyai
élan vital yang tinggi. Karya-karya Raden Saleh tidak hanya sebatas pemandangan
alam, tetapi juga kehidupan manusia dan binatang yang bergulat dalam tragedi.
Sebagai contoh adalah lukisan “Een Boschbrand” (Kebakaran Hutan), dan “Een
Overstrooming op Java” (Banjir di Jawa), “Een Jagt op Java” (Berburu di Jawa)
atau pada “Gevangenneming van Diponegoro” (Penangkapan Diponegoro). Walaupun
Raden Saleh belum sadar berjuang menciptakan seni lukis Indonesia, tetapi
dorongan hidup yang diungkapkan tema-temanya sangat inspiratif bagi seluruh
lapisan masyarakat, lebih-lebih kaum terpelajar pribumi yang sedang bangkit
nasionalismenya.
Noto Soeroto dalam tulisannya “Bi het100” Geboortejaar
van Raden Saleh(Peringatan ke 100 tahun kelahiran Raden Saleh), tahu 1913,
mengungkapkan bahwa dalam masa kebangkitan nasional, orang Jawa didorong untuk
mengerahkan kemampuannya sendiri. Akan tetapi, titik terang dalam bidang
kebudayaan (kesenian) tak banyak dijumpai. Untuk itu, keberhasilan Raden Saleh
diharapkan dapat membangkitkan perhatian orang Jawa pada kesenian nasional.
2. Mooi
Indie
Penjelasan seni lukis karya Mooi Indie diatas :
A. Pengertian
:
Mazhab atau cara pandang kolonialisme Belanda atas negeri jajahannya
yaitu Hindia Belanda ( Indonesia ) yang diasumsikan
sebagai alam pedesaan
yang damai, adem ayem dan harmonis.
B. Latar
Belakang.
1. Munculnya usaha dari pemerintah kolonial Hindia
Belanda untuk
menciptakan Hindia Belanda yang adem ayem tanpa
pemberontakan.
2. Adanya pengaruh penelitian Wallace yang mengatakan
nusantara adalah
negeri yang tidak cepat berubah.
3. Ketertarikan seniman-seniman eropa pada keindahan
alam Indonesia.
4. Adanya usaha dari pemerintah Hindia Belanda dan
pelukis-pelukis asing
untuk mengeksploitasi keindahan alam nusantara untuk
dijual kepada para
turis.
C. Tema Seni
Lukis Mooi Indie
1. Lanskap / Pemandangan Alam.
D. Ciri-ciri
Seni Lukis Mooi Indie
1. Objek lukisan didominasi oleh unsur gunung, sawah,
dan pepohonan, kadang
juga air.
2. Cahaya dan warna-warni alam dilukis / digambarkan
semirip aslinya.
3. Suasana keindahan alam dilebih-lebihkan.
E.
Tokoh-tokoh Pelukis Mooi Indie
1. A AJ Payen.
2. Arie Smith.
3. Raden Saleh
4. Van Dick.
5. R. Abdullah Suryosubroto
6. Mas Pirngadi.
7. Wakidi.
F. Pengaruh
Mooi Indie
1. Melahirkan seniman-seniman bercorak naturalis dan
realis, seperti :
a. R. Basuki Abdullah
b. RM Sayid
2. Melahirkan corak lukisan Sokaraja Banyumas.
3. Memperkaya corak seni lukis Bali.
4. Menimbulkan penentangan terhadap Mooi Indie yang di
pelopori oleh
S.Sudjojono yang pada akhirnya melahirkan PERSAGI (
Persatuan Ahli gambar
Indonesia ).
3. PERSAGI
Masa
Cita Nasional Bangkitanya kesadaran nasionalyang dipelopori oleh Boedi Oetomo
pada Th.1908. Seniman S. Sudjojono, Surono, Abd. Salam, Agus Djajasumita
medirikan PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar Indonesia).Perkumpulan pertama di
Jakarta ini, berupaya mengimbangi lembaga kesenian asing Kunstring yang mampu
menghimpun lukisan-lukisan bercorak modern. PERSAGI berupaya mencari dan
menggali nilai-nilai yang mencerminkan kepribadian Indonesia yang
sebenarnya.Karya-karya seni lukis masa PERSAGI antara lain :
a.) Agus Djajasumita : Barata Yudha, Arjuna Wiwaha,
Nirwana, Dalam Taman Nirwana
b.)S. Sudjojono: Djongkatan, Didepan Kelambu Terbuka,
Mainan, Cap Go meh.
c.) Otto Djaya: Penggodaan, Wanita Impian
Hasil karya mereka mencerminkan :
d.) Mementingkan nilai-nilai psikologis;
e.) Tema perjuangan rakyat ;
f.) Tidak
terikat kepada obyek alam yang nyata;
g.) Memiliki kepribadian Indonesia ;
h.) Didasari oleh semangat dan keberanian;
1. Affandi
Affandi dilahirkan di Cirebon pada tahun 1907, putra
dari R. Koesoema, seorang mantri ukur di pabrik gula di Ciledug, Cirebon. Dari
segi pendidikan, ia termasuk seorang yang memiliki pendidikan formal yang cukup
tinggi. Bagi orang-orang segenerasinya, memperoleh pendidikan HIS, MULO, dan
selanjutnya tamat dari AMS, termasuk pendidikan yang hanya diperoleh oleh
segelintir anak negeri.
Namun, bakat seni lukisnya yang sangat kental
mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya, dan memang telah menjadikan
namanya tenar sama dengan tokoh atau pemuka bidang lainnya.
Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis.
Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia,
Eropa, Amerika maupun Australia selalu memukau pecinta seni lukis dunia.
Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore
tahun 1974 ini dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering menumpahkan langsung
cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain
dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang
sesuatu.
Dalam perjalanannya berkarya, pemegang gelar Doctor Honoris
Causa dari University of Singapore tahun 1974, ini dikenal sebagai seorang
pelukis yang menganut aliran ekspresionisme atau abstrak. Sehingga seringkali
lukisannya sangat sulit dimengerti oleh orang lain terutama oleh orang yang
awam tentang dunia seni lukis jika tanpa penjelasannya. Namun bagi pecinta
lukisan hal demikianlah yang menambah daya tariknya.
Kesederhanaan cara berpikirnya terlihat saat suatu
kali, Affandi merasa bingung sendiri ketika kritisi Barat menanyakan konsep dan
teori lukisannya. Oleh para kritisi Barat, lukisan Affandi dianggap memberikan
corak baru aliran ekspresionisme.
Kopi dari lukisan diri yang dibuat oleh pelukis
Affandi sendiri.
Saat ini, terdapat sekitar 1.000-an lebih lukisan di
Museum Affandi, dan 300-an di antaranya adalah karya Affandi. Lukisan-lukisan
Affandi yang dipajang di galeri I adalah karya restropektif yang punya nilai
kesejarahan mulai dari awal kariernya hingga selesai, sehingga tidak dijual.
Sedangkan galeri II adalah lukisan teman-teman
Affandi, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal seperti Basuki
Abdullah, Popo Iskandar, Hendra, Rusli,Fajar Sidik, dan lain-lain. Adapun
galeri III berisi lukisan-lukisan keluarga Affandi.
Di dalam galeri III yang selesai dibangun tahun 1997,
saat ini terpajang lukisan-lukisan terbaru Kartika Affandi yang dibuat pada
tahun 1999. Lukisan itu antara lain "Apa yang Harus Kuperbuat"
(Januari 99), "Apa Salahku? Mengapa ini Harus Terjadi" (Februari 99),
"Tidak Adil" (Juni 99), "Kembali Pada Realita Kehidupan,
Semuanya Kuserahkan KepadaNya" (Juli 99), dan lain-lain. Ada pula lukisan
Maryati, Rukmini Yusuf, serta Juki Affandi.
2. Achmad
Sadali (1924 -1987)
Dilahirkan di Garut Wetan, 29 Juli 1924. Ia menempuh
pendidikan seni rupa di ITB, di bawah bimbingan Ries Mulder. Ia kemudian
memperoleh beasiswa dari Rockefeller Foundation untuk belajar ke Amerika
Serikat.
Lukisan Achmad Sadali, “Gunungan Emas”, 1980 ini
merupakan salah satu ungkapan yang mewakili pencapaian nilai religius
Hasil wawancara
Pada tanggal 26 februari 2013 kami wawancara ke musium mpu
tantular
Pertanyaan 1 :
bagaimana pembagian zaman kebudayaan di indonesia??
Guide :
diindonesia seni budaya dibagi menjadi beberapa tahapan atau zaman, yang
pertama zaman prasejarah lalu zaman hindu-budha, zaman peralihan, zaman
penjajahan, zaman kemerdekaan, dan samai kezaman modern saat ini. Di musium ini
mempunyai beberpa koleksi pada zaman hindu-budha, zaman penjajahan, sampai
zaman modrn. Kalau pada zaman pra sejarah contohnya seperti lukisan lukisan
pada gua.
Pertanyaan 2 :
contoh hasil kebudayaan setiap zaman itu apa saja??
Guide :
kalau disini pada zaman hindu-budha ada patung-patung atau arca lalu
perhiasan-perhiasan kerajaan, kitab-kitab dan lain sebagainya. Kalau pada zaman
penjajahan itu ada seperti meriam dan lain sebagainya; pada zaman peralihan itu
sama dengan zaman kerajaan kerajaan islam jadi peninggalan zaman peralihan
yaitu seperti masjid, musik atau lagu lalu alat-alat musik lainnya, dan pada
zaman modrn yaitu seperti lukisan-lukisan musik-musik modern yang kita liat
sehari-hari.
Pertanyaan 3 :
pembagian seni itu apa saja??
Guide :
secara garis besar seni itu ada 2 jenis yaitu seni terapan dan seni murni,
seni murni itu seperti seni lukis dan
seni pahat, kalau seni terapan seperti kesenian gerabah, seni cetak dan lain sebagainya.
Pertanyaan 4 :
kalau batik itu termasuk seni apa??
Guide :
tentu termasuk seni terapan, kalau wayang itu bisa disebut seni murni dan seni
terapan sehingga wayang itu dikategorikan sebagai seni campuran.
Kami :
kalau begitu terima kasih bapak atas waktunya, sekian saja wawancara kami.
Guide :
iya sama sama.
PENUTUPAN
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang
menjadi pokok bahasan dalam makalah ini,
tentunya masih banyak
kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya
rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul
makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi
memberikan kritik dan saran yang membangun
kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan
makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga
para pembaca yang budiman pada umumnya.